Menyoal OBR - Kaedah Kempen Anti - Keganasan Terhadap Wanita

(EDISI BAHASA MELAYU)
Menyoal OBR - Kaedah Kempen Anti - Keganasan Terhadap Wanita


Kempen melawan kekerasan terhadap wanita , One Billion Rising ( OBR ) for Justice Indonesia 2015 , yang berlangsung di Plaza Teater Jakarta , Taman Ismail Marzuki ( TIM ) , Jakarta , Sabtu , 14 Februari lalu menjadikan tarian sebagai kaedah kempennya .

" Kami berusaha membawa konsepnya bukan sekadar aksi massa biasa . Kami membuatnya seperti sebuah tarian , diadakan di malam hari dan mendatangkan disc jockey ( DJ ) . Orang - orang biasanya menghabiskan wang berjuta-juta ringgit untuk pergi melantai tarian , kini percuma dan jelas ada mesej yang ingin disampaikan , " kata pemuzik Kartika Jahja yang juga salah satu pegiat OBR Indonesia .

Sehari sebelum anggota Suruhanjaya IX DPR Rieke Dyah Pitaloka ( kiri ) , bersama , Komisioner Komnas Perempuan Masruchah ( tengah ) dan Sri Nurherwati ( kanan ) , memberi keterangan akhbar di Kompleks Parlimen , Senayan , Jakarta , Jumat ( 13/2/15 ) . Mereka mendesak DPR dan DPD untuk mengakomodir rang undang-undang Kekerasan Terhadap Perempuan masuk dalam Program Legislasi Nasional ( Prolegnas ) selepas tidak kemasukan rang undang-undang tersebut ke dalam Prolegnas 2015 dan 2019 .

Komen :

Inilah watak asli negara - negara sekular kapitalis dalam mengatasi suatu masalah di masyarakatnya , iaitu dengan gaya hura - hura , wang atau pun Undang - undang yang bersifat reaktif ( knee - jerk legislation ) dibanding mengakui kegagalan nilai - nilai liberal dan sistem kapitalis yang berbahaya bagi masyarakat .

Seharusnya para aktivis anti kekerasan terhadap perempuan ini menyedari bahawa ada paradoks kronik dalam muatan nilai kempen mereka antara himbauan untuk menghormati perempuan dengan menyanjung nilai - nilai kebebasan liberal yang meletakkan kehendak dan keinginan individualistik sebagai standard benar dan salah . Demikian juga , sangat jelas paradoks antara perjuangan Undang - undang yang bertujuan untuk membina persekitaran masyarakat yang aman bagi perempuan dengan doktrin sekularisme yang memaksakan keyakinan kepada masyarakat tentang idea - idea kebebasan yang juga mereka perjuangkan. Paradoks .

Para aktivis perempuan ini juga perlu memahami bahawa penyebab segala permasalahan yang terjadi di masyarakat adalah pola pikir liberal yang mengajarkan untuk mengejar kesenangan peribadi tanpa menghiraukan akibat yang ditimbulkannya kepada orang lain . Pandangan liberal inilah telah mewujudkan masyarakat yang mengorbankan kehormatan dan keselamatan perempuan . Kempen untuk meningkatkan kesedaran perempuan seperti " One Billion Rising " akan terbukti sia - sia dalam membendung tindakan - tindakan negatif dan kekerasan terhadap perempuan yang didorong oleh sistem yang rosak ini selama perempuan terus hidup di bawah bayang - bayang sistem liberal kapitalisme .

Fika M. Komara
Anggota Central Media Office Hizbut Tahrir Indonesia

#‎WanitadanSyariah #‎WomenandSyariah
SHARE THIS

0 comments:

Post a Comment