Kewajipan Menundukkan Pandangan

#‎WomenAgainstFeminism #‎WomenandShariah

Sejak serangan besar budaya barat dan aturannya di negeri-negeri Muslim dengan sistem kufur, wanita non-muslim mulai keluar rumah dengan separuh telanjang: memperlihatkan dada mereka, punggung, rambut, lengan, dan kaki. Sebahagian wanita muslim juga mula meniru mereka dan juga keluar rumah berpakaian seperti ini, sehingga para lelaki tidak dapat membezakan antara wanita muslim dan non-muslim ketika mereka berjalan di pasar atau berdiri di kedai-kedai ketika melakukan tawar-menawar barang untuk dibeli.

Lelaki muslim yang tinggal di kota ini tidak akan mampu memberantas kemungkaran ini sendiri. Mereka juga tidak boleh untuk tinggal di kota ini tanpa melihat aurat wanita. Akibatnya, para lelaki tidak dapat menghindari dari melihat aurat wanita kerana gaya hidup mereka. Tidak ada lelaki yang dapat menjaga dirinya dari melihat aurat wanita; lengannya, dada, punggung, kaki dan rambut, seberapa besarpun usaha mereka untuk tidak melihat, kecuali ketika dia duduk di rumahnya dan tidak meninggalkannya. Namun lelaki tidak dapat tetap tinggal di rumah kerana dia harus membangun hubungan dengan masyarakat dalam hal jual beli, sewa menyewa, bekerja, dsb. Dia tidak dapat melakukan perkara-perkara demikian sementara dia ingin menjaga dirinya dari melihat aurat.
Namun demikian, larangan melihat aurat perempuan sudah jelas dalam Al-Qur’an dan Sunnah, dan permasalahan ini diatur hanya dalam dua keadaan:

Pertama, pandangan tiba-tiba (Nazrat al-Fuja’a), yang ditemui dalam kehidupan umum (public). Lelaki dimaafkan atas pandangan pertama yang tidak disengajakan (pada ‘aurat) namun dia diwajibkan untuk tidak melihat lagi, seperti yang dikisahkan oleh Jarir bin Abdullah, ia berkata: Aku bertanya pada Rasulullah Saw., tentang pandangan tiba-tiba (Nazrat al-Fuja’a), kemudian beliau memerintahkan aku untuk mengalihkan pandanganku. Telah dikisahkan yang bersumber dari Ali bahawa dia berkata: Rasulullah Saw mengatakan padaku: Jangan mengikuti pandangan yang pertama dengan pandangan yang ke-2. Pandangan yang pertama dibolehkan untukmu namun tidak untuk yang ke-dua.

Dalam keadaan dimana lelaki bukan mahram berbicara pada perempuan yang kepala dan lengannya tidak bertutup seperti bahagian tubuh lainnya yang biasa diperlihatkan, ia harus mengalihkan pandangannya dan menundukkan pandangannya. Hal ini telah disampaikan oleh Abu Dawud: Al- Fadhl bin Abbas rakan menunggangnya Rasulullah ketika itu wanita dari bani Khath’am datang meminta hukum (putusan), Al-Fadhl mulai melihat padanya dan perempuan itu pun melihatnya, dengan demikian Rasulullah memalingkan wajahnya dari perempuan itu. Allah SWT. Berfirman:

“Katakanlah kepada orang lelaki yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (An-Nur [24]: 30)
SHARE THIS

0 comments:

Post a Comment