Sistem Khilafah Islam adalah Satu-satunya Solusi untuk Krisis Rohingya


Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuhu

Hadirin yang dirahmati Allah, dunia terus berubah dengan dinamikanya, namun kondisi saudara-saudara kita Muslim Rohingya tidak pernah berubah. Hal disebabkan sistem sekuler nasionalistik, kapitalistik yang membentuk dan mendominasi dunia hari ini dan terus memelihara rezim predator Myanmar dan rezim-rezim boneka Muslim yang abai terhadap penderitaan Muslim Rohingya. Solusi hampa berupa perundingan diplomatik yang sia-sia dan perjanjian setengah hati terus ditawarkan berulang oleh forum bilateral maupun internasional, namun tak satupun nyawa saudara kita terselamatkan! Karena itu saudari-saudariku, semua usaha sia-sia dan buang waktu ini harus segera diakhiri! Saudara-saudara kita Muslim Rohingya tidak bisa menunggu lebih lama lagi! Sudah terlalu lama umat Islam disuguhi sajian teater diplomasi murahan yang tumpul, Sungguh, yang dirindukan umat hari ini adalah sikap jantan penguasanya yang bertaring membela kebenaran dan menyelamatkan mereka yang tertindas!

Hadirin rahimakumullah, sesungguhnya Allah Swt berfirman :

((وَإِنِ اسْتَنصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ))

“…jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka menjadi kewajibanmu untuk menolong mereka…” (TQS. Al-Anfal : 72).

Sangat jelas perintah Islam bagi penguasa Muslim Indonesia, Malaysia dan Bangladesh untuk segera melakukan tindakan-tindakan pertolongan darurat terhadap pengungsi Rohingya. Tindakan – tindakan itu antara lain :

1. Membuka perbatasan negeri bagi pengungsi Rohingya
2. Mengirim misi penyelamatan pada mereka yang masih terkatung-katung di laut,
3. Melindungi dan mengurus semua kebutuhan mereka,
4. Melakukan tekanan politik pada rezim penindas Myanmar agar menghentikan semua kezhaliman dan brutalitas mereka pada Muslim Rohingya.
5. Jika tekanan politik diabaikan, maka langkah mobilisasi kekuatan militer harus dilakukan untuk menegakkan kehormatan Islam dan kaum muslimin!

Namun, dimanakah kaum Muslim Rohingya bisa mendapatkan semua pertolongan itu? Hadirin yang mulia, salah satu isu krusial di sini adalah masalah kewarganegaraan, adanya seruan dari beberapa kelompok umat yang menuntut Myanmar memberikan kewarganegaraan pada Rohingya adalah salah alamat, kewajiban itu justru ada pundak penguasa Muslim seperti Indonesia, Malaysia dan Bangladesh yang justru harus memutus hubungan diplomatik dengan Myanmar rezim pembantai umat Islam. Muslim Rohingya memiliki hak penuh untuk memulai hidup baru di tanah kaum Muslimin, mereka harus mendapat jaminan penuh kebutuhan pokok mereka seperti kesehatan, pendidikan, pekerjaan dan perlindungan.

Namun, rezim-rezim dunia Muslim telah menolak untuk melakukan semua itu karena mereka menganut sistem kapitalis, pemerintahan dengan model negara bangsa, dengan pandangan sekuler terhadap kewarganegaraan yang membedakan manusia hanya dari kebangsaannya dan menawarkan bantuan hanya karena kepentingan kapitalis mereka dibandingkan berdasarkan kebutuhan manusiawi. Sehingga di bawah sekulerisme identitas “kebangsaan” menjadi pembeda warganegara dengan warga asing, dan konsep ini menyebabkan banyak masyarakat yang terabaikan, dan memacu konflik etnis di dalam negara juga peperangan antar negara, yang terdorong oleh identitas etnis dan bangsa.

Oleh karena itu saudariku, bukan hanya Rohingya dan umat tertindas lainnya yang sangat membutuhkan sebuah model alternatif pemerintahan untuk melindungi mereka dari pemerintahan yang rusak, sakit dan memecah belah ini, TAPI juga seluruh nilai kemanusiaan di dunia. Sistem satu-satunya yang mampu memberikan ini semua adalah KHILAFAH yang berdasar metode kenabian yang menerapkan sistem hukum Islam secara komprehensif. Adalah kembali berdirinya negara ini yang menjadi solusi hakiki bagi tragedi yang menimpa saudara-saudara kita Muslim Rohingya dan umat secara umum.

Lantas bagaimana Khilafah secara praktis menyelesaikan Krisis Rohingya ini? Saya akan mempresentasikan tiga poin berikut ini :

(1) Penyatuan Negeri-negeri Muslim dan Penghapusan Garis Perbatasan Nasional
Pertama, Khilafah akan menolak konsep negara bangsa dan menghapus seluruh garis perbatasan di antara negeri-negeri Islam, menyatukan tanah kaum Muslimin di bawah satu negara oleh satu pemerintahan yang memerintah berdasar satu sistem – yakni sistem Allah (swt) : ISLAM, membangun kesatuan fisik di antara umat Islam, sebagaimana diwajibkan oleh al-Qur’an dan Sunnah, karena Allah (swt) berfirman

إِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ

“Sesungguhnya ini adalah umat kamu; umat yang satu; dan Aku (Allah) adalah Rab (Tuhan)mu, maka abdikan dirimu kepada-Ku (Allah).” (QS. Al Anbiya : 92)

Maka saudariku, Khilafah akan menyatukan wilayah Rakhine Myanmar, dengan tanah Bangladesh, Pakistan, kepulauan Indonesia, Malaysia dengan seluruh tanah kaum Muslimin di seluruh dunia! Dan perbatasan seluruh negara Khilafah akan selalu terbuka untuk setiap Muslim yang tertindas, tanpa peduli darimana mereka berasal. Allahu Akbar!! Penyatuan negeri-negeri kaum Muslimin juga bermakna penyatuan sumber daya, kekayaan dan kekuatan militer berbagai kawasan tersebut. Dan ini tidak hanya menjamin berlimpahnya fasilitas negara untuk menyediakan bantuan kemanusiaan untuk umat Islam dan bahkan non-Muslim melarikan diri sekalipun, namun juga akan membangun Khilafah sebagai kekuatan dunia yang diperhitungkan, dengan pengaruh internasional yang besar, dan luasnya leverage politik secara global.

Keberadaan negara seperti ini yang merepresentasikan kepentingan Islam dan kaum Muslim secara global akan menjadikan musuh-musuh umat bergidik ketakutan berfikir untuk menyerang satu Muslim pun. Sungguh, adalah absennya negara seperti ini yang membuat rezim-rezim rasis seperti Myanmar dan lainnya yang menyimpan kebencian terhadap Muslim berani menindas komunitas Muslim yang minoritas, karena mereka sepenuhnya tahu bahwa hari ini mereka dapat menyerang Muslim dengan bebas tanpa ada satupun reaksi keras dari suatu negara yang membela Muslim. Namun, rezim-rezim anti Islam seperti ini justru akan mengetahui bahwa hal ini tidak akan pernah terjadi jika Khilafah berdiri, karena Khilafah tidak akan pernah membiarkan negara asing membahayakan nyawa satu orang Muslim pun.

(2) Digunakannya Seluruh Perangkat Negara, termasuk Mobilisasi Militer untuk Membela Umat Muslim yang Tertindas
Kedua, Khilafah akan menggunakan seluruh perangkat dan sarana, mengerahkan segenap daya upaya, baik politik, ekonomi, dan militer untuk melindungi umat Islam dari penindasan, dan membela darah dan kehormatan karena Islam telah mewajibkannya, sebagaimana Rasulullaah (Saw) bersabda :

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

“Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya” (HR. Muslim)

Hal ini kemudian akan menjadi tekanan politik yang hebat, termasuk memutus hubungan politik dan ekonomi dan mengeluarkan ancaman aksi-aksi militer terhadap negara manapun yang terlibat dalam menindas atau membunuh Muslim. Jika tekanan seperti ini gagal menghentikan kezhaliman rezim-rezim tersebut melawan Islam dan kaum Mukminin, maka Khilafah akan mengerahkan kekuatan militernya secara penuh untuk membela Muslim tanpa memandang lagi dimana mereka berada dan berapapun biayanya. Hal ini karena Khilafah adalah negara yang berprinsip, berdasarkan nilai moral Islam yang luhur yang menempatkan kehormatan jiwa manusia di tempat yang tinggi, yang mewajibkan untuk melindungi darah kaum Muslim, dibandingkan sekedar melakukan tindakan hanya berdasar kepentingan nasional yang egois ataupun karena keuntungan ekonomi. Rasulullaah (saw) bersabda :

(( فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِيْ شَهْرِكُمْ هَذَا، فِيْ بَلَدِكُمْ هَذَا، لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ ))

“Sesungguhnya darah kalian, harta benda kalian, kehormatan kalian, haram atas kalian seperti terlarangnya di hari ini, bulan ini dan negeri in. Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.... [HR. Bukhari dan Muslim]

Prinsip moral yang luhur ini tercermin dalam tindakan pada abad ke-9 Khalifah al Mu’tashim yang mendengar bahwa seorang Muslimah ditangkap dan dianiaya oleh seorang tentara Romawi di Amuriyah, Turki, dia segera mengirimkan 90,000 pasukannya untuk menolong wanita tersebut sekaligus untuk menggentarkan Romawi agar tidak mengulangi perbuatan itu, padahal saat itu ibukota Khilafah berlokasi di Baghdad. Masya Allah!!

(3) Menerapkan Paradigma Kewarganegaraan Islam dalam Masyarakat
Dan yang ketiga, saudari-saudariku yang dimuliakan karena Islam, Khilafah akan menerapkan paradigma kewarganegaraan Islam di dalam negeri. Dimana menurut Islam, kewarganegaraan seseorang itu berdasarkan tempat yang dipilihnya untuk tinggal menetap. Karena itu, jika ia memilih untuk tinggal di dalam wilayah Khilafah dan menerima untuk loyal pada negara dan hukum-hukum Islam, maka dia adalah warganegara resmi Khilafah yang berhak menerima seluruh hak-haknya sebagai jaminan, tanpa memandang kebangsaannya atau agamanya. Hal ini berdasarkan hadits Nabi (saw)

ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى التَّحَوُّلِ مِنْ دَارِهِمْ إِلَى دَارِ الْمُهَاجِرِينَ وَأَخْبِرْهُمْ إِنْ هُمْ فَعَلُوا ذَلِكَ أَنَّ لَهُمْ مَا لِلْمُهَاجِرِينَ وَأَنَّ عَلَيْهِمْ مَا عَلَى الْمُهَاجِرِينَ

“Serulah mereka untuk pindah ke negeri kaum Muhajirin, dan beritahu mereka jika mereka melakukannya, maka mereka akan memiliki hak-hak yang sama dengan kaum Muhajirin dan memiliki tugas yang sama dengan kaum Muhajirin”

Khilafah juga dilarang untuk melakukan diskriminasi berdasarkan etnis, bangsa, warna kulit ataupun keyakinan dalam memberikan kewarganegaraan. Juga terlarang untuk membedakan antara warganegara dalam hal apapun, apakah itu pemerintahan, pengadilan, pelayanan urusan, ataupun perlindungan terhadap jiwa, kehormatan dan harta. Semua warganegara dalam Khilafah harus diperlakukan setara tanpa memandang agama, ras atau lainnya, dan mereka semua harus bisa menikmati keadilan Islam, karena Allah Swt berfirman

وَإِذَا حَكَمۡتُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحۡكُمُواْ بِٱلۡعَدۡلِ‌ۚ

“dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil” (QS. An-Nisa : 58)

Rasulullah (Saw) juga bersabda, الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Seorang Imam (pemimpin) itu adalah penjaga dan ia bertanggungjawab terhadap apa yang dia jaga”. Konteks hadits ini adalah ‘umum’ dan mencakup semua urusan, Muslim maupun non-Muslim. Bahkan Dzimmi (warganegara non Muslim) juga memiliki hak dan jaminan perlindungan yang sama seperti halnya Muslim di dalam negara, terjamin hak mereka untuk beribadah sesuai keyakinannya tanpa gangguan dari siapapun, dan tidak boleh dipaksa keluar dari agamanya. Inilah kenapa saat Khilafah dulu, kaum Yahudi di Spanyol yang dianiaya oleh pemerintahan Nashrani melarikan diri ke wilayah Khilafah selama era inkuisisi Spanyol, karena mereka tahu bahwa mereka akan diterima di sana, disediakan tempat perlindungan dan dijamin hak-hak mereka untuk hidup sebagai warganegara. Sungguh, sangat bisa dipahami bahwa tegaknya kembali negara mulia ini akan melampaui pengharapan dan standar norma-norma internasional dalam hal perlakuan negara terhadap warga minoritas, pengungsi dan populasi manusia dimana hari ini telah mencapai titik terendah kemanusiaan sampai pada level mengerikan yang dibentuk oleh tata dunia yang egois, amoral dan tidak berperikemanusiaan.

Wahai saudariku yang dimuliakan Islam, sungguh telah terbukti dengan sangat jelas bahwa hanya dengan tegaknya negara cemerlang ini, yakni al-Khilafah, yang akan mengakhiri mimpi buruk yang dihadapi oleh saudara-saudara kita Muslim Rohingya dan kaum Muslim seluruhnya. Ini akan membawa harapan nyata saat semua menawarkan harapan palsu dan keputusasaan. Karena itu, kami menyeru anda semua, saudariku, untuk berjuang bersama kami dan menyambut seruan kami sebagai Hizb ut Tahrir, dengan seluruh upaya anda, untuk mengembalikan cahaya kemuliaan dari sistem Allah (Swt) di negeri-negeri kita dengan cara meyakinkan keluarga, rekan sejawat, dan jaringan yang anda miliki tentang kebutuhan darurat akan kembalinya negara ini, sehingga rahmat hukum-hukumnya akan sekali lagi memberkati umat ini, dan menyinari dunia sebagai mercusuar keadilan bagi umat manusia.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuhu

Ukhti Fika Komara
Anggota Pejabat Media Pusat Hizb ut Tahrir untuk Asia Tenggara
SHARE THIS

0 comments:

Post a Comment