Kembali Pada Petunjuk Al-Quran

Semua kerosakan dan kemaksiatan yang berlaku pada hari ini sepatutnya memberikan pelajaran dan kesedaran kepada kita. Dengan itu kita dapat menentukan jalan yang benar untuk memperbaikinya. Allah SWT telah memberikan penjelasan kepada kita sekaligus apa yang mesti dilakukan.


Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

"Telah tampak kerosakan di daratan dan di lautan akibat perbuatan tangan manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" (ar-Rum [30]: 41).

Abu al-‘Aliyah berkata: “Siapa saja yang bermaksiat di muka bumi, sungguh dia telah berbuat kerosakan, sebab kebaikan bumi dan langit adalah dengan ketaatan". Kerana itu dinyatakan di dalam hadis:

لَحَدٌّ يُقَامُ فِيْ الْأَرْضِ أَحَبَّ إِلَى أَهْلِهَا مِنْ أَنْ يُمْطَرُوْا أَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا

"Sungguh satu hukuman had yang ditegakkan di muka bumi lebih disukai penduduknya daripada mereka ditimpa hujan 40 hari".

Ini kerana , hudud yang ditegakkan itu menghalang manusia—atau kebanyakan mereka—dari melakukan keharaman. Jika kemaksiatan dilakukan maka hal demikian menjadi sebab hilangnya berkah dari langit dan bumi.” (Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm).

Kemaksiatan besar yang berdampak luas sejak akhir-akhir ini adalah berpunca daripada penerapan sistem/aturan buatan manusia, yakni sistem demokrasi-kapitalisme, seraya mengesampingkan sistem/aturan yang berasal dari wahyu dan petunjuk Allah SWT, yakni hukum-hukum al-Quran dan as-Sunnah.

Berbagai kerosakan di muka bumi itu hanyalah sebahagian dari akibat perbuatan manusia yang menyalahi petunjuk dan aturan Allah SWT. Sebahagian lainnya, yaitu azab pedih di akhirat, akan ditimpakan kelak jika pelakunya tidak bertaubatbat dan tidak diampuni oleh Allah SWT.

Berbagai kerosakan itu ditampakkan oleh Allah SWT “la’allahum yarji’ûn”, yakni agar manusia kembali pada kebenaran, bertaubat kepada Allah SWT dan menjalankan ketaatan; agar mereka menghentikan berbagai kemaksiatan dan menjalankan ketaatan, serta kembali pada hukum-hukum al-Quran dan as-Sunnah, yakni syariah Islam.

Kesadaran untuk menghentikan dan meninggalkan sistem demokrasi-kapitalisme serta kesadaran untuk kembali pada petunjuk dan hukum-hukum al-Quran dan as-Sunnah mestilah wujud di tengah-tengah kita.

Ramadhan kali ini seharusnya kita jadikan momentum untuk mewujudkan kesadaran itu. Apalagi Allah SWT telah mengaitkan bulan Ramadhan dengan turunnya al-Quran.

Allah SWT berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

"Bulan Ramadhan itulah bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeza" (al-Baqarah [2]: 185).

“Sebagai petunjuk” yakni “sebagai petunjuk untuk manusia yang menunjuki mereka pada kebenaran dan jalan yang lurus. “Sebagai penjelasan dari petunjuk” yakni menjadi bukti yang pasti dan mukjizat bahawa itu berasal dari petunjuk yang diturunkan oleh Allah SWT. “Sebagai pembeza” yakni yang membezakan antara yang haq dan yang batil, baik dan buruk serta amal salih dan amal buruk (Syaikh Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah, Taysîr fî Ushûl at-Tafsîr, hlm. 216).

Allah SWT juga menegaskan:

... إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

"Sesungguhnya al-Quran ini memberikan petunjuk ke jalan yang lebih lurus…" (al-Isra’ [17]: 9).

Jika kita kembali pada petunjuk al-Quran, niscaya kita akan mendapatkan solusi atas semua permaslahan yang kita hadapi dalam kehidupan ini. Ini kerana, al-Quran telah memberikan penjelasan atas segala sesuatu.

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

"Kami telah menurunkan kepada kamu al-Quran sebagai penjelas segala sesuatu, petunjuk, rahmat dan khabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri" (an-Nahl [16]: 89)

Kembali pada petunjuk al-Quran mewajibkan kita untuk mengambil dan melaksanakan hukum-hukum yang diberikan oleh al-Quran dan Hadis Nabi saw., baik dalam urusan akidah, ibadah, makanan, minuman, pakaian dan akhlak; dalam urusan pernikahan dan keluarga; ataupun dalam urusan ekonomi, politik dalam dan luar negeri, kekuasaan, pemerintahan, jenayah dan hukuman.

Hal demikian kerana, semua hukum itu sama-sama merupakan hukum Allah SWT yang bersumber dari wahyu-Nya; juga sama-sama termaktub di dalam al-Quran dan Hadis Nabi saw. atau digali dari keduanya.

Perwujudan atas semua itu akan sempurna melalui penerapan syariah Islam secara formal oleh negara. Ini kerana, banyak hukum syariah yang hanya boleh dan sah dilaksanakan oleh imam/ khalifah melalui kekuasaan negara, misalnya hukum-hukum yang berkaitan dengan pemerintahan dan kekuasaan, ekonomi, sosial, pendidikan, politik luar negeri, hukuman jenayah, dsb.

Wahai Kaum Muslim:

Kembali pada petunjuk al-Quran itu hanya akan sempurna melalui penerapan syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan secara utuh dan menyeluruh. Hal itu tidak mungkin terjadi kecuali melalui kekuasaan pemerintahan yang berlandaskan akidah Islam dan menerapkan syariah, iaitu Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah.

Dengan demikian keberkahan akan dilimpahkan kepada negeri ini dan penduduknya.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

"Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…" (al-A’raf [7]: 96)
SHARE THIS

0 comments:

Post a Comment