Negeri Keabadian Yang Terlupakan (Bahagian 1)

Dunia itu fana, akhirat itu abadi. Dunia itu sementara, akhirat itu selama-lamanya. Dunia itu fatamorgana, akhirat itulah yang sebenarnya. Dunia itu mimpi, akhirat itulah realiti sebenarnya. Demikian seterusnya. Ungkapan-ungkapan senada pasti sudah sering kita dengar. Sayangnya, semakin sering kita mendengarkan ungkapan-ungkapan tersebut, semakin sering itu pula kita acapkali melupakannya.

Buktinya banyak sekali. Banyak umat Islam bekerja keras sekadar untuk mencari harta demi sebesar-sebesarnya bekal di kehidupan di dunia yang fana ini sahaja, sementara itu mereka juga sering berleha-leha menyiapkan bekal untuk kehidupan abadi di akhirat nanti. Banyak umat Islam yang menghabiskan sebahgian besar waktunya hanya untuk mencari kebahagiaan di kehidupan dunia yang sementara ini, sedangkan mereka sedikit sekali menghabiskan waktu untuk meraih kebahagiaan di akhirat untuk selama-lamanya. Banyaknya manusia yang tertipu oleh gemerlapnya dunia yang fatamorgana ini, sambil melupakan akhirat yang sebetulnya nyata bagi siapa saja yang mempunya iman dan takwa.

Ringkasnya, kecintaan terhadap dunia dan kesibukan dengan dunia telah melupakan dan memalingkan manusia dari menaati Allah SWT dan penyembahan kepada-Nya dengan sebenar-benarnya penyembahan. Padahal Allah SWT telah mengingatkan manusia dengan firman-Nya:
"Ketahuilah bahawa harta-harta kalian dan anak-anak kalian itu hanya cubaan. Sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar" (TMQ al-Anfal [8]: 28).

Rasulullah SAW juga telah menggambarkan dunia melalui sabdanya,
“Aku sama sekali (tidak memiliki keakraban) dengan dunia. Perumpamaanku dengan dunia adalah bagaikan seseorang yang ada di dalam perjalanan; dia beristirehat di bawah sebuah pohon rendang, lalu dia pergi dan meninggalkannya.” (HR Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Hakim).

Kerana itu beliau pun bersabda, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau seorang pengembara.” (HR al-Bukhari).
SHARE THIS

0 comments:

Post a Comment