Negeri Beriman, Kami Rindu

"Iman akan bertambah seiring dengan ketaatan yang kita lakukan" (Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah)

Iman bukan hanya sekadar ikrar melalui lisan semata-mata. Ia adalah keyakinan penuh kepada Al-Khaliq Al-Mudabbir yang kemudian termaktub dalam kehidupan.


Saat ini seakan-akan begitu sulit untuk memupuk iman, ditengah merebaknya peradaban yang menawarkan kemewahan dunia, memprasaranakan kemaksiatan, menawarkan racun bersalut madu, semuanya terbungkus menawan. Ibarat buah kedongdong, halus di permukaan, tetapi penuh duri di dalamnya. Tanpa sedar kaum muslim pun perlahan-lahan masuk ke dalam pusaran kemaksiatan. Penyempit kehidupan, "Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit" [TMQ Thaahaa: 124].

Mudah bagi Allah untuk membolak-balikkan kehidupan. Mudah bagi Allah untuk meruntuhkan suatu peradaban. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, semuanya pasti terjadi. Sayangnya, saat ini manusia terlalu lancang, enggan menerima kebenaran yang hakiki, menutup mata dan telinga dari peringatan Allah. Bahkan, dengan angkuhnya menolak hukum-Nya. "Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?" [TMQ Al-Maaidah: 50].

Ketika lisan dengan lantang meneriakkan "Laa ilaaha Ilallaah", justeru mereka dengan lancangnya berkata "Agama harus dipisahkan dari politik". Di sudut lain, orang berbondong-bondong mengatakan "agama jangan dipolitikkan". Allah, begitu kejamnyakah kehidupan saat ini? Lupakah mereka kepada Pencipta-nya? Lupakah mereka kepada Rabb semesta alam yang telah memberikan mereka kehidupan? Bukan, bukan kekuasaan yang kami harapkan. Jika mereka mengatakan kami gila kekuasaan, sungguh itu fitnah yang keji. Kami hanya menginginkan kami diatur dengan aturan Allah. Kami menginginkan kehidupan yang penuh dengan atmosfera keimanan. Kami rindu dengan pemimpin selembut Abu Bakar, setegas Umar, Sehebat Rasulullah. Rindu akan kibaran #PanjiRasulullah di setiap penjuru.

Oleh: Rismayanti
SHARE THIS

0 comments:

Post a Comment